Cinta dapat diartikan sebagai suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Cinta bisa dialami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Kali ini saya akan membahas cinta kepada sesame,alam dan tuhan dalam kehidupan.
Menurut saya cinta
kepada sesama manusia itu termasuk penting,seperti contohnya adalah kepada
tetangga.Rasa cinta dapat ditunjukan dengan toleransi dalam perbedaan agama,kepedulian
saat sesama terkena bencana/musibah,ikut membantu saat bergotong royong,sikap
peduli pada masalah dan kesusahan orang lain, tetapi menurut saya yang
terpenting dalam menunjukan rasa cinta
kepada sesama adalah dengan bersikap ramah,menjaga tutur kata dengan
baik dan selalu menunjukan senyum yang ikhlas.
Cinta
kepada alam dapat ditunjukan dengan beberapa cara. banyak diantara kita merasa bahwa cara untuk menunjukkannya akan sangat
sulit, karena harus berbuat sesuatu yang ‘besar’ agar pengaruhnya semakin
terasa. Namun, sebenarnya
menunjukan rasa cinta pada alam dapat ditunjukan dengan cara-cara sederhana
seperti yang selama ini saya lakukan. Yang
pertama adalah menanam pohon,dengan menanam pohon kita bisa dapat membantu
pemerintah dalam menggalakan penghijauan lingkungan walaupun dalam skala kecil.
Selanjutnya, dengan menggunakan tissue secukupnya karena dengan menghemat
tissue kita juga dapat menghemat pohon yang ditebang sia-sia. Lebih baik tidak
menggunakan plastic saat berbelanja karena plastik butuh 1.000 tahun
untuk terurai, coba bayangkan bila anda sehari menggunakan 5 kantong plastic
berarti membutuhkan 5.000 tahun untuk plastic itu terurai.Selanjutnya yang
sangat mudah dilakuakan dan siapa saja bisa melakukannya adalah dengan tidak
membuat sampah sembarang,mungkin kita dapat menyimpan terlebih dahulu sampah
tersebut sampai kita menemukan tempat sampah.
Cinta kepada tuhan adalah hal yang terpenting
dalam hidup ini. Biasanya cinta kepada tuhan saya tunjukan dengan selalu
mengikuti perintaahnya dan menjauhin larangannya,percaya akan adanya Allah SWT,percaya
akan rosul dan nabi, mengamalkan hadits-hadits Allah, mengamalkan isi-isi dalam
Al-qur’an,solat 5 waktu, dll
Menurut agama saya ada beberapa bentuk cinta,yaitu:
1. Mahabbahtullah (Mencintai Allah)
Mencintai
Allah Ta’ala adalah ibadah wajib dan sebagai salah satu realisasi tauhid. Orang
yang beriman akan mencintai Allah Ta’ala lebih dari segalanya. Cinta Allah
Ta’ala merupakan dasar cinta dari segala bentuk mencinta yang dibenarkan dalam
Islam.
Allah
Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 165:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan
diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman mereka sangatmencintai Allah.”
Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan maksud “Orang-orang yang
beriman sangat mencintai Allah”, beliau
mengatakan bahwa karena kecintaan orang-orang beriman kepada Allah,
kesempurnaan pengetahuan tentang Allah, pengagungan dan pentauhidan mereka
kepada Allah, maka mereka tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu
apapun, bahkan mereka beribadah hanya kepada Allah semata, bertawakal kepada
Allah dan kembali kepada Allah dalam segala urusan mereka.[2]
Syaikhul
Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata:
أَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يُحِبُّونَ اللَّهَ أَكْثَرَ مِنْ مَحَبَّةِ الْمُشْرِكِينَ لِلَّهِ وَلِآلِهَتِهِمْ لِأَنَّ أُولَئِكَ أَشْرَكُوا فِي الْمَحَبَّةِ وَالْمُؤْمِنُونَ أَخْلَصُوهَا كُلَّهَا لِلَّهِ
Sesungguhnya
orang-orang beriman, mereka mencintai Allah lebih dari kecintaan orang-orang
musyrik terhadap Allah dan tuhan-tuhan mereka, hal itu dikarenakan mereka
orang-orang musyrik melakukan kesyirikan dalam cinta (mahabbah), sedangkan orang-orang
beriman mereka mengikhlaskan cinta tersebut hanya kepada Allah semata.[3]
Kejujuran mencintai Allah Ta’ala, tercermin dari tanda-tanda yang
direalisasikan oleh seorang hamba, di antaranya yaitu: Mendahulukan perkara
yang Allah cintai atas selainnya, itiba’ kepada Rasulallah, mencintai orang-orang yang mencintai Allah,
membenci orang yang kufur kepada Allah dan berjihad di jalan Allah. Untuk menyelamatkan diri
dari Neraka, tidak cukup hanya berbekal cinta, karena orang-orang musyrik, kaum
Nasrani, kaum Yahudi dan Ahlu al-Bida’ seperti Tasawuf merekapun mencintai Allah juga. Tapi, kecintaan
mereka adalah palsu karena tidak membuktikan dengan melakukan apa-apa yang
dicintai Allah Ta’ala.
3. Cinta untuk dan karena Allah Ta’ala
Dasar
cinta untuk dan karena Allah Ta’ala adalah mahabatullah (mencintai Allah). Seseorang yang benar-benar mencintai Allah
Ta’ala, dia akan mencintai seseorang atas dasar keimanan dan cintanya kepada
Allah Ta’ala.
رَوَي اْلبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Al-Bukhari
dan Muslim meriwayatkan dari Anas radhiallahu
‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. “Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan
merasakan manisnya iman; orang yang manjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dia
cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang yang ia tak mencintainya
kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah
menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk
neraka.” (HR. al-Bukhari No.16 dan
Muslim No.163)
Hadits ini
adalah hadits yang agung. Salah satu dasar dari dasar-dasar agama. Makna
manisnya iman adalah menikmati ketaatan-ketaatan dan mampu menanggung beban
dalam agama, serta mendahulukan itu semua dari materi dunia. Kecintaan seorang
hamba karena Allah direalisasikan dengan menjalankan ketaatan kepada Allah dan
meninggalkan yang menyelisihinya begitupula kecintaan kepada rasul.[5]
Begitupula
sebaliknya, orang yang mencintai Allah Ta’ala, tidak akan mencintai orang-orang
yang memusuhi Allah. Para sahabat Nabi radhiallahu
‘anhum adalah tauladan terbaik
dalam merealisasikan cinta yang benar. Meraka lebih mencintai sesama meraka
sekalipun budak dibanding keluarganya yang masih dalam kekufuran. Begitu pula
sahabat Anshar yang menolong, membantu dan memberikan segalanya untuk kaum
Muhajirin sekalipun mereka dalam kondisi butuh terhadap apa yang mereka berikan
kepada sahabat Muhajirin.
Allah
Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Mujadilah ayat 22:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tak
akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.”
رَوَي اْلبُخَارِيُّ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Al-Bukhari meriwayatkan
dari Anas radhiallahu
‘anhu, dari Nabishallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tidak
sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya
sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari No.13 dan Muslim No.169)
Dalil di atas menjelaskan
bahwa tidak mungkin seseorang yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan
hari akhir, serta mengamalkan apa-apa yang disyariatkan, kemudian mereka
mencintai dan memberikan loyalitas kepada orang-orang yang memusuhi Allah
Ta’ala dan Rasul-Nya. Akan tetapi, seseorang yang beriman kepada Allah, dia akan
mencintai saudara seagama sebagaimana mencintai dirinya sendiri, maksudnya
adalah: menginginkan kebaikan, menangkal keburukan, membela harga diri,
menghormati, dan lain-lain.
Kasih sayang yang saya berikan kepada orang tua/keluarga adalah dengan
membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari,perhatian dan peduli
saat mereka sakit dan kasih sayang yang selalu abadi untuk mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar