Minggu, 08 Januari 2017

MANAJEMEN OPERASI

1.      Pengertian Manajemen Operasi
Manajemen operasi adalah satu set aktivitas untuk memperoleh nilai tambah produk melalui transformasi input menjadi outputInput dapat berupa :
a.       Material dikelompokan menjadi dua macam yakni :
(1)   Material pokok disebut bahan baku yaitu komponen utama yang akan menjadi produk yang dihasilkan dalam proses konversi. Contoh: tekstil untuk perusahaan garmen, kayu untuk perusahaan mebel, kertas untuk perusahaan percetakan.
(2)   Material pembantu atau bahan penolong adalah bahan untuk membuat outputbenar-benar menjadi produk akhir yang utuh. Contoh: cat untuk meja, kancing untuk baju.
b.      Karyawan  dikategorikan menjadi empat yakni :
(1)   Ahli dan terlatih; seorang yang menguasai konsep tertentu dianggap ahli, sedangkan terlatih apabila sudah berkali-kali melakukan pekerjaan yang sama.
(2)   Ahli tetapi tidak terlatih; seorang yang memiliki sertifikasi tinggi di bidangnya dapat dikatakan sudah ahli. Namun karena belum berpengalaman terhadap suatu bidang maka dikatakan tidak terlatih.
(3)   Tidak ahli tetapi terlatih; seorang yang tidak ahli dalam bidang tertentu namun sudah berpengalaman karena sering melakukan pekerjaan tersebut berkali-kali.
(4)   Tidak ahli dan tidak terlatih; seorang yang tidak ahli dan tidak terlatih maka tidak diperlukan dalam proses konversi karena akan sulit untuk dimintai menyelesaikan sesuatu baik individu maupun kerja tim.
c.       Peralatan juga diperlukan dalam proses konversi. Berhubungan dengan peralatan, teknologi berperan besar dalam proses konversi dan produk yang dihasilkan.
Sedangkan output berupa produk. Produk adalah hasil dari proses konversi berupa barang dan jasa. Hasil konversi diharapkan menghasilkan nilai tambah dan dapat memberikan kepuasan kepada para pelanggan.


2.      Jenis Operasional Bisnis
Ditinjau dari sisi operasional, bisnis dikelompokan menjadi bisnis manufaktur yang menghasilkan barang dan bisnis non manufaktur yang menghasilkan jasa. Ada juga bisnis gabungan manufaktur dengan non manufaktur yakni bisnis disamping menghasilkan barang juga menghasilkan jasa.
Bisnis manufaktur dikelompokkan menjadi tiga macam yakni perusahaan penghasil produk dalam satuan unit, penghasil produk dalam kelompok unit, dan perusahaan penghasil produk secara massal. Sedangkan bisnis non manufaktur dikelompokkan dua macam yaitu perusahaan non manufaktur terkait barang dan perusahaan non manufaktur tidak  terkait barang. Untuk bisnis gabungan manufaktur dan non manufaktur, contohnya rumah makan.

3.      Produksi dan Produktivitas
Produksi dan produktivitas adalah dua hal yang berbeda. Produksi adalah penambahan nilai tambah. Jenis nilai tambah dapat berupa :
a)       Manfaat bentuk adalah segala macam bentuk penambahan manfaat yang dihasilkan dengan melakukan perubahan bentuk, misalnya kayu menjadi kursi, kain menjadi baju.
b)      Manfaat tempat apabila suatu barang akan memperoleh nilai tambah ketika barang tersebut berpindah dari tempatnya semula.
c)      Peluang bagi barang yang memiliki bentuk sama dan tempat yang sama dikenal dengan manfaat waktu, misalnya perusahaan gudang.
d)     Salah satu contoh manfaat kepemilikan adalah pemberian sertifikat.
Tingkat produksi adalah barapa jumlah yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu. Pengukuran tingkat produksi melalui beberapa variable yakni melalui input, proses, dan output. Melalui variabel input yang digunakan dalam produksi antara lain :
a.        Material / Bahan
Input berupa material/bahan yang digunakan untuk mengukur tingkat produksi adalah bahan baku. Bahan baku adalah bahan utama yang diolah menjadi produk bahan jadi dan pemakaiannya dapat diidentifikasikan secara langsung atau bisa diikuti jejaknya pada produk jadi. Dalam menggunakan bahan sebagai pengukur berapa tingkat produksi, ada suatu standar penggunaan bahan. Standar penggunaan bahan adalah suatu standar yang dibuat oleh suatu perusahaan yang menunjukkan jumlah dan jenis bahan baku yang diperlukan untuk bisa memproduksi satu unit produk.


a.       Karyawan
Karyawan dalam perusahaan dibagi menjadi dua yaitu karyawan langsung dan karyawan tidak langsung. Jika tingkat produksi diukur dengan menggunakan karyawan, maka ada standar penyelesaian kerja. Standar penyelesaian kerja merupakan standar yang menunjukkan jumlah dan jenis tenaga kerja langsung yang diperlukan untuk menyelesaikan satu unit produk. Karena yang terlibat secara langsung dalam proses konversi adalah karyawan langsung, maka perhitungan tingkat produksi juga menggunakan karyawan langsung saja, bukan semua karyawan perusahaan.
b.      Peralatan
Peralatan sebagai salah satu input juga dapat digunakan sebagai variabel dalam mengukur tingkat produksi. Perhitungan tingkat produksi akan menggunakan jam mesin langsung. Jam mesin langsung adalah jam penggunaan mesin yang secara langsung terlibat dalam/untuk proses konversi.
Produktivitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan sejumlah produk barang dan atau jasa dengan faktor produksi yang tersedia. Tingkat produktivitas adalah sejauh mana produksi yang dilaksanakan telah mencapai apa yang telah direncanakan sebelumnya.Berikut rumus produktivitas :
Rounded Rectangle:





Ada dua metode untuk mengukur tingkat produktivitas suatu perusahaan yakni :
a.       Dengan membuat perbandingan antara output dan input
Metode ini menghitung produktivitas dengan cara output dibagi dengan input. Manfaat yang diperoleh dengan menggunakan metode pertama antara lain :
1.      Dapat mengetahui porsi masing-masing input terhadap output.
2.      Dapat mengetahui tingkat efisiensi masing-masing input.
3.      Manajer operasi dapat memilih langkah yang benar dalam merencanakan dan mengendalikan input untuk proses konversi yang dilaksanakan oleh perusahaan.
b.      Menunjukkan perbandingan antara kondisi aktual dan normatif.
Upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas perusahaan antara lain:
a.       Secara ekstensif, yaitu upaya untuk meningkatkan jumlah produksi dengan cara menambah jumlah faktor produksinya.
b.      Secara intensif, yaitu upaya untuk meningkatkan jumlah produksi dengan cara meningkatkan produktivitas setiap faktor produksi.
c.       Rasionalisasi, yaitu upaya untuk meningkatkan jumlah produksi dengan cara mengeluarkan kebijaksanaan yang rasional yang mengarah pada efisiensi produksi agar produktivitas optimal. Rasionalisasi dapat ditempuh dengan cara :
1.      Mekanisasi, yaitu dilakukan dengan mengganti alat-alat produksi dengan mesin-mesin atau alat-alat yang serba modern.
2.      Standardisasi, yaitu dilakukan dengan membuat suatu standar atau ukuran dalam hal mutu, bentuk, ukuran, dan lain-lain terhadap suatu produk tertentu.
3.      Spesialisasi atau pembagian kerja.
4.      Menempatkan pekerja pada tempat yang sebenarnya (tepat dalam penempatan)

4.      Stategi Proses
Ada enam macam strategi proses yang dapat dipilih agar proses konversi dapat optimal, yaitu :
a.       Inovasi teknologi : perusahaan selalu berusaha menemukan dan mengembangkan teknologi baru bagi produknya dan akan memproduksi produk yang terbaru sedangkan produk baru tidak diproduksi lagi.
b.      Eksploitasi teknologi : pada dasarnya hampir sama dengan inovasi teknologi yakni perusahaan berusaha menemukan dan mengembangkan teknologi baru bagi produknya. Perbedaanya adalah pada perlakuan produk lama, untuk produk lama, masih diproduksi namun dijual dengan harga yang lebih rendah
c.       Layanan teknologi : baiasanya perusahaan yang menggunakan strategi ini bergerak pada bidang pelayanan. Perusahaan akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk konsumen, sehingga perusahaan akan melengkapi peralatan produksinya dengan teknologi baru sehingga lebih aman dan nyaman untuk pelanggan.
d.      Kustomisasi massa : melalui strategi ini, perusahaan akan memproduksi produk yang beraneka rangam dan dalam jumlah yang besar.
e.       Modularisasi : walaupun kadang produk dari perusahaan tersebut berbeda, namun bisa juga salah satu atau beberapa komponen dari produk tersebut adalah sama.
f.       Ekonomi : perusahaan memproduksi produk dengan variasi kecil dan dalam jumlah yang banyak, perusahaan menekankan pada biaya per unit yang serendah-rendahnya.


B.     Desain Produk
Produk adalah ujung tombak bisnis. Oleh karena itu, desain produk merupakan hal yang tidak boleh dipandang remeh. Manajemen perusahaan hendaknya memahami hal seperti komponen produk, definisi produk, Product Life Cycle (PLC) dan Machine Life Style (MLC), serta analisis kelayakan produk.

1.      Komponen Produk
Produk adalah hasil produksi. Agar dapat mendesain produk dengan benar maka perlu mengetahui komponen produk. Komponen produk antara lain :
a.       Nama atau merek
Nama produk akan menjadi identitas utama untuk dikenalinya suatu produk. Nama atau merek dapat digunakan untuk komunikasi kepada pelanggan melalui berbagai hal antara lain :
1)    Nama atau merek dapat berwujud nama, terminology, simbol, desain/gambar, yang mengidentifikasikan produk dan membedakan produk perusahaan dengan produk competitor.
2)   Nama atau merek bukanlah sekedar nama saja melainkan menjadi satu set image yang bisa mengkomunikasikan produk kepada para pembeli.
3)   Nama atau merek akan mampu menggambarkan beberapa hal, seperti kualitas produk, reliabilitas produk, kinerja produk maupun pereusahaan pembuat produk, prestasi produk maupun perusahaan pembuat produk, dll.
4)   Nama atau merek dapat memungkinkan perusahaan untuk menentukan harga yang lebih rendah, sama, atau lebih tinggi dari harga produk competitor.
5)   Nama atau merek juga dapat digunakan perusahaan untuk menarik perhatian lebih banyak kepada para konsumen.
b.      Kemasan atau pembungkus
Dewasa ini, kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus namun memiliki peran yang lain seperti :
1)      Kemasan dapat menambah nilai produk perusahaan.
2)      Kemasan dapat digunakan sebagai media komunikasi melalui logo atau tulisan dalam kemasan tersebut.
3)      Kemasan dapat digunakan untuk menjelaskan produk dan kegunaan produk.
4)      Kemasan dapat digunakan untuk memberi peringatan, menunjukkan garansi, dan berbagai informasi lain yang diberkaitan dengan produk yang dikemas.
5)      Kemasan dapat didesain untuk menjadi lebih simple dan menjadikan produk lebih menarik.
6)      Kemasan juga berguna untuk memproteksi atau melindungi produk yang berada didalamnya.

c.       Idea
Yang termasuk dalam idea yakni sebagai berikut :
1)      Fitur produk adalah segala hal yang melekat pada produk, seperti bentuk, warna, ukuran, kenyamanan dalam penggunaan, keamanan, daya tahan, flesibilitas, harga produk, dsb. Contoh: dalam produk kursi mebel, fitur berupa daya tahan sangat diperhatikan, untuk produk ikan bakar lebih menonjolkan fitur rasa dalam pemenuhan selera.
2)      Benefit produk adalah apapun yang dapat diperoleh dari produk tersebut. Dapat diketahui melalui kepuasan konsumen. Ada tipe kepuasan konsumen yakni kepuasan rasional, contohnya seseorang yang butuh baju puas setelah membeli baju dan kepuasan emosional, misalnya seseorang membeli lukisan mahal untuk dipajang diruang tamu.
3)      Jaminan produk, contohnya pakaian tidak luntur, gambar televisi cukup jelas, pergantian baru dalam jangka waktu tertentu, dll.
4)      Servis atau layanan produk, misalnya produsen memberikan pelayanan dari barang masih ditangan produsen sampai barang tersebut pindah tangan ke konsumen dengan baik.

2.      Definisi produk
Terkait dengan definisi produk, pembangkitan idea menjadi bagian penting. Pembangkitan idea merupakan gabungan pengetahuan dan seni. Dalam hubungannya dengan pembangkitan dan pengembangan idea, terkait beberapa pengertian penting yakni :
a)      penelitian murni (untuk mengembangkan ilmu pengetahuan) dan penelitian terapan (diterapkan untuk kepentingan tertentu),
b)      penelitian produk (pengembangan produk) dan penelitian proses, serta
c)      penciptaam dan/atau peniruan produk (pembuatan produk baru dan melindungi produk dari tindakan peniruan bahkan pemalsuan).
Setelah proses pembangkitan dan pengembangan idea, tahap berikutnya adalah melakukan analisis trade-off produk meliputi fungsi utama produk, bentuk produk disesuaikan dengan fungsi utama produk, ukuran produk, warna produk, dan kelengkapan produk didesain sesuai dengan fungsi utama produk sehingga para konsumen produk ini dapat benar-benar memanfaatkan fungsi produk secara maksimal.

3.      Analisis Kelayakan Produk
Analisis kelayakan produk meliputi tiga aspek utama, yaitu :
a)      Analisis teknis adalah analisis dari sudut pandang teknikal, karena proses produksi berhubungan dengan berbagai masalah produksi. Contoh :
1.      Tersedianya material yang sesuai spesifikasinya untuk proses produksi
2.      Tersedianya dukungan teknis untuk pelaksanaan proses produksi
3.      Tersedianya mesin dan peralatan untuk melakukan produksi
4.      Tersedianya tempat yang cukup untuk proses produksi
5.      Tersedianya tenaga kerja langsung atau operator untuk melaksanakan proses produksi
b)      Analisis ekonomis adalah analisis dengan mempertimbangkan produk yang dapat diproduksi dengan biaya per unit yang wajar atau bahkan dapat diproduksi dengan harga per unit yang lebih rendah dari perusahaan yang sudah beroperasi. Satu persoalan yang tidak dapat ditinggalkan dalam analisis ekonomis ini adalah persoalan skala ekonomis. Ada beberapa hal yang berpengaruh di dalam kelayakan analisis ekonomis yaitu :
1.      Kemudahan untuk memperoleh bahan baku,
2.      Kontinuitas tersedianya bahan baku atau material,
3.      Kelancaran proses produksi yang akan dilaksanakan dalam perusahaan meliputi kelancaran operasional mesin dan peralatan produksi, ketrampilan para karyawan langsung atau operator yang terlibat langsung dalam penanganan proses produksi.
c)      Analisis komersial adalah analisis dengan konsep tentang produksi dan penjualan produk. Dalam analisis ini mempertimbangkan apakah suatu produk layak diproduksi dan dipasarkan secara komersial atau dapat terserap oleh pasar. Aliran kas masuk diperhitungkan atas penjualan produk tersebut.
Ketiga analisis yakni analisis teknis, analisis ekonomis, dan analisis komersial ini harus mendapatkan hasil layak. Jika salah satu aspek tidak layak maka sebaiknya perusahaan mengurungkan niatnya untuk memproduksi dan menual produk tersebut.

4.      Hubungan Antara PLC (Product Life Cycle) dan MLC (Machine Life Cycle)
PLC dan MLC merupakan suatu kesatuan yang harus dipertimbangkan dengan baik oleh manajemen perusahaan. Ketimpangan antara keduanya akan merugikan perusahaan.
a.       PLC ( Product Life Cycle )
PLC menggambarkan perkembangan penjualan produk perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Siklus tersebut dimulai dari introduksi dan berakhir dengan penurunan.
1)      Tahap introduksi : tahap dimana produk belum dikenal oleh calon konsumen, dan dalam kurun waktu tertentu itu jumlah penjualan tidak terlalu banyak.
2)      Tahap growth : dalam tahap ini terjadi peningkatan penjualan produk yang sangat signifikan.
3)      Tahap maturitas (kedewasaan) : tahap ini ditandai dengan jumlah penjualan tidak naik lagi tetapi juga tidak turun dalam jangka waktu tertentu atau relatif sama.
4)      Tahap penurunan : tahap akhir PLC ditandai dengan menurunnya jumlah produk yang dijual dan akhirnya tidak ada produk yang terjual lagi dalam kurun waktu tertentu.
Apabila jumlah hubungan jumlah unit yang terjual digambarkan dalam grafik, akan terlihat sebagai berikut :
 



                                                                                                                         

                                                                                               
       


b.      MLC ( Machine Life Cycle )
MLC adalah siklus hidup mesin. MLC berkaitan erat dengan PLC. Mesin untuk memproduksi produk yang dijual perusahaan hendaknya mempunyai siklus hidup yang seimbang dengan siklus hidup produk. Grafik MLC :









Tahapan MLC antara lain :
1)      Tahap persiapan dan instalasi : dalam tahap ini belum ada satupun produk yang dihasilkan melalui mesin dan peralatan tersebut. Sehingga dalam tahap ini jarang digambarkan dalam grafik yang menghubungkan jumlah unit yang diproduksi dengan waktu. Setelah tahap persiapan dan instalasi selesai selesai, dimulailah tahap percobaan.
2)      Tahap produksi percobaan : merupakan percobaan terhadap mesin dan peralatan produksi yang baru. Oleh karena yang dicoba adalah mesin dan bukan produk, maka produk dari proses produksi percobaan merupakan produk normal, sejauh mproduk yang dihasilkan tidak menyimpang , dan bisa digunakan seperti produk normal yang dihasilkan oleh mesin atau alat produksi yang lama. Produksi percobaan dimulai dengan kapasitas yang rendah.
3)      Tahap produksi normal : mesin dan peralatan produksi dipergunakan sesuai kapasitas normal. Walaupun begitu, tetap diperlukan adanya pemeliharaan mesin secara rutin dan pemeliharaan berkala harus selalu dilakukan agar mesin dan peralatan produksi tetap berfungsi dengan baik.
4)      Tahap pemberhentian :  tahap ini mesin dan peralatan produksi diberhentikan tugasnya dari proses konversi. Sehubungan dengan ini, ada 2 macam pemberhentian :
a)      Pemberhentian sementara > pemberhentian untuk sementara waktu saja. Dalam tahap ini manajemen akan melakukan perbaikan besar-besaran. Seperti penggantian suku cadang, dan sebagainya. Bisa jadi perbaikan yang dilakukan membutuhkan waktu yang cukup lama. Apabila perbaikan sudah siap, maka akan disusul dengan percobaan mesin dan kemudian masuk ke tahap produksi normal.
b)      Pemberhentian permanen > mesin dan alat produksi tersebut benar – benar tidak dapat lagi dipergunakan.
c.      Hubungan PLC dan MLC
 








     
          Dari gambar tersebut, terlihat bahwa betapa pentingnya kesesuaian waktu antara PLC dan MLC. Jika kurun waktu PLC lebih cepat dari MLC, maka di sisa umur MLC sudah tidak ada lagi produk yang terjual untuk mendukung biaya penyusutan mesin dan peralatan produksi. Hal ini dikarenakan jika MLC belum selesai berarti umur ekonomis mesin itu masih ada. Sementara produk sudah memasuki tahap penurunan atau sudah tidak dapat terjual lagi sehingga tidak ada penerimaan pendapatan produk. Sehinggan mesin tersebut tidak memiliki daya dukung sehingga akan membebani perusahaan.
           Keadaan sebaliknya adalah ketika kurun waktu MLC lebih cepat dari PLC. Ini juga tidak menguntungkan. Karena produk yang sebenarnya masih sangat diminati konsumen, tidak dapat diproduksi disebabkan oleh mesin atau alat produksinya yg sudah rusak. Dengan demikian potensi keuntungan perusahaan akan hilang. Jadi, jelaslah bahwa keseimbangan antara PLC dan MLC sangat perlu untuk diperhatikan pihak manajemen. 


Sumber:
http://ichasarsono.blogspot.co.id/2014/01/ringkasan-materi-kuliah-manajemen.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar